Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts

Thursday, April 21, 2011

Hi Women.


I've been kinda busy and not in the mood to write anything lately (that doesn't seem unfamiliar, does it). But hey, Kartini Day! Though mostly I don't give a fuck about this day (let's be honest, nobody celebrate it outside facebook or maybe smses), at least I wanna say: Happy Kartini Day!.... in my blog.

I do believe that men and women should be more equal. Sure, women don't have a penis and men don't have boobs (some men DO have boobs, but that's for another story), but other than those sex tools, and one more other thing I'll tell you in the next paragraph, we are basically the same.

The only other thing which we are different is the way we look at other people on the opposite gender. But it's too complicated for me to explain with my lack of ability to create good structured English, and I have no time for this. Let's just say that the way men look at women and the way women look at men is very different. Read The Mating Mind by Geoffrey Miller by the way, he will tell you many things (just.. torrent it or something).

Final words, to all women out there, read this sarcastic lyrics by The Panas Dalam below, and be grateful that you were born as a woman:)

Cita-citaku, ingin menjadi polwan
mana mungkin aku hanya lelaki
oh Tuhan, tolong hamba-Mu
aku tak sudi jadi bapak polwan

Cita-citaku, ingin jadi Bu Ahmad
mana mungkin aku hanya lelaki
oh ibu, jangan paksa aku
aku tak sudi jadi Bapak Ahmad..
 
Reff:
Sedih.......Hatiku sedih
terlahir sebagai seorang lelaki
oh Tuhan, tolong hamba-Mu
terlahir sebagai seorang lelaki
oh ibu, jangan paksa aku
ini bukan jaman Siti Nurbaya
Lagi....

Seandainya aku boleh memilih
sebelum dilahirkan
Betapa enak menjadi perempuan
hanya membuka aurat
lelaki bekerja keras untuk mendapatkannya

Cita-citaku, ingin menjadi tomboy
mana mungkin aku hanya lelaki
oh tuhan, tolong hamba-Mu
aku tak sudi jadi lelaki tomboy

Cita-citaku, ingin jadi lesbian
mana mungkin aku hanya lelaki
oh ibu, jangan paksa aku
aku tak sudi menjadi homosex...

Reff:
Sedih, hatiku sedih
terlahir sebagai seorang lelaki
oh Tuhan, tolong hamba-Mu
terlahir sebagai seorang lelaki
oh ibu, jangan paksa aku
ini bukan jaman Siti Nurbaya
Lagi....

(The Panas Dalam - Cita-citaku | Lyrics by Pidi Baiq)

Sunday, April 17, 2011

Bila Cinta Tak Indah Bagimu

Aduhai indahnya bercinta, berbeda agama
Aduhai indahnya bercinta, ditolak mertua
Aduhai indahnya bercinta, cemburu selalu
Aduhai indahnya bercinta, bertengkar melulu

Aduhai indahnya bercinta, segitiga cintanya
Aduhai indahnya bercinta, miskin kekasihnya

Aduhai indahnya bercinta, manja kasihnya
Aduhai indahnya bercinta, playboy kekasihnya

Bila cinta tak indah bagimu
Mengapa kau tetap bertahan?
Bila cinta tak indah bagimu
Mengapa kau tetap bertahan?
The Panas Dalam - Bila Cinta Tak Indah Bagimu

The best feel good song after a break up. Pidi Baiq from The Panas Dalam is a genius.

Thursday, June 14, 2007

Muse: Man of Mystery

Muse ngerilis track baru! Judulnya Man of Mystery, sebuah cover dari band Shadows yang existed pada taun 60an. Man of Mystery (MoM) adalah sebuah track instrumental dengan riff yang catchy dan.. decently enjoyable (artiin sendiri deh). Tune-nya happy! Sesuai dengan feeling gw hari ini. Ga tau kalo besok, mungkin gw bakal ngedenger Lithium-nya Nirvana lagi, atau mungkin Moonlight Sonata dan lagu2 klasik lainnya karna mulai besok gw mau belajar serius buat SPMB. Track ini terdapat di sebuah CD gratis yang terdapat di dalam NME magazine keluaran minggu ini. Jadi buat kamukamu yang tinggal di UK, bisa dibeli langsung di toko majalah. Buat yang di Australia, pergi aja ke UK trus dapetin majalahnya di toko majalah yang ada di bandara. Buat yang di Indo, download aja link di bawah (via muselive). Di majalah itu ada 1 CD yang berisi lagu2 favourite Matt Bellamy sendiri. Di antara lagu2nya adalah Jeff Buckley - The Train, The Flaming Lips - The Yeah Yeah Yeah Song, Lighting Bolt - Magic Mountain, dll. Selain track2 itu ya itu tadi, Muse - Man of Mystery. Oya, untuk yang berada di Indonesia, tracknya bisa di download di:

http://www.muselive.com/forums.php?m=posts&q=25130


ps. Linknya jangan langsung di klik. Pertama-tama, buka dulu http://www.muselive.com/ di halaman baru. Trus login dulu. Kalo belum punya account, ya register dulu! Gratis kok! atau kalo males buat account, pake username gw aja, coldfire, passwordnya tanyain ama mbahmu! Abis login, baru klik link di atas.

LISTEN TILL YOU BLEED! MUSERS!

Saturday, June 9, 2007

Album Baru Linkin Park

Minutes to Midnight, late review. Well, yeah, it's a review, kind of.



Tadinya gw ga tau Linkin Park mau ngeluarin album baru, secara gw bukan fan berat mereka gitu. Namun ketika gw sedang dirawat dirumah sakit karena suatu penyakit yang disebabkan oleh aides aigipti, gw ga sengaja ngeliat videoklip keren berjudul What I've Done, yang ternyata dinyayikan ama LP. Sama seperti orang normal lainnya, bila ada suatu band yang kebetulan gw sukai (atau pernah gw sukai) merilis album baru, maka gw akan berusaha mendapatkan album baru itu, bagaimanapun caranya, asal gw ga rugi.

Dengan kondisi perinternetan gw yang kurang memadai, gw ga punya alat buat nyedot album ini dari situs-situs torrent. Terlebih lagi, ga mungkin gw membeli kaset atau CD Linkin Park yang ga termasuk dalam daftar band favorit gw sekarang. So, gw ngambil jalan ndeso (sorry, maksud gw, jalan Ngindo), yaitu dengan membeli cd mp3 yang beredar di kota kembang.


Ceritanya, gw dapet tuh album. Dan syukur alhamdulillah, gw cuma dengerin tuh album sekali. CD mp3nya gw buang jauh-jauh ke ujung jalan ganesha depan mesjid salman. Abisnya, lagu2 yang gw beli di album itu kayak lagu2 indie band amerika yang ga laku. SUCK ABIS.

Selidik punya selidik, album yang gw beli tuh ternyata emang palsu. It's a dummy album. Si chester benington konon sengaja mengedarkan album palsu ini di internet, yang isinya berupa lagu2 band dia jaman dulu (namanya gw ga apal). Gunanya? kata dia, supaya album aslinya ga bocor sebelum waktunya. Keren juga ya cara dia.. Matt Bellamy harus nyoba cara ini buat album Muse yang akan datang, biar ga leaked lagi kayak Black Holes and Revelations.

So, gw kembali nyari2 di kota kembang, depan mesjid salman, rumah temen gw, toko musik khusus bajakan, etc, masih juga belum gw temukan. Akhirnya, setelah perjuangan panjang tapi tidak terlalu berat, hari selasa kemaren gw temuin album asli (tapi bajakan) di depan mesjid salman, terpampang bersama DVD berisi film2 Miyabi dan Nana.

Tracklist:

01. Wake
02. Given Up
03. Leave Out All The Rest
04. Bleed It Out
05. Shadow Of The Day
06. What I’ve Done
07. Hands Held High
08. No More Sorrow
09. Valentine’s Day
10. In Between
11. In Pieces
12. The Little Things Give You Away


Note: kalo album bajakan yang lo beli berisi track-track yang berjudul Stand!, One Little Something, Over the Top, We use the Pain, etc etc, maka dapat dipastikan kalo yang lo beli itu palsu, dan bajakan..


I loved Linkin Park. Terutama waktu gw masih anak belia kelas 1 smp dan sukanya cuma ikut-ikutan temen gw. Tapi gw suka bukan karena ikut-ikutan doang, gw suka karena album mereka yang dulu, Hybrid Theory, emang ngena buat gw. "It's so cool", I said long time ago. Tentu aja pake bahasa indonesia karna gw belum mudeng bahasa inggris.


Album kedua mereka Reanimation bukanlah favorit gw, kecuali remixnya Crawling yang kalo ga salah judulnya di rubah jadi Krwling (kalo ga salah). Walau ga suka, gw masih menghargai usaha Linkin Park karna ini menunjukan kalo personil2 LP tuh saling setiakawan. (Si DJ Han kan kerjaannya cuma muter2in CD ama buat videoklip doang, plus nyengir2 ga jelas. So dengan album reanimation ini setidaknya dia bisa berbuat lebih untuk LinkinPark).

Album ketiga, Meteora, walau ga se-cool Hybrid Theory tapi punya beberapa lagu favorit gw seperti Don't Stay dan Somewhere I Belong (well I guess many people like this song). Gw punya kenangan tersendiri dengan lagu Somewhere I Belong karna pas gw lagi nonton videoklip ini di ruang guru SMP 5 tiba2 ada berita sekilas info yang mengatakan bahwa tentara amerika telah mencapai Iraq. Yeah, it didn't matter to me but that was the time I started to think about everything.

Lalu, mereka meluncurkan album baru yang digabungin dengan rapper ga penting siapa itu gw lupa namanya. Sejak saat itu gw buang linkin park jauh2 dari katalog musik gw.

Gimana dengan Minutes to Midnight? Ok, first of all, gw seneng karna gw bisa nerima Linkin Park kembali. Kedua, gw juga salut karna warna musik di album ini agak berbeda dengan album2 sebelumnya. Ya, walau teriakan2 emo dari chester bennington kadang masih terdengar di album ini (which I kinda like, don't get me wrong), tapi secara keseluruhan musik mereka agak berubah. Oya, di lagu ini si Mike Shinoda jarang muncul. Hehe. (I love LP's rapping action, don't get me wrong again), but I prefer LP without too much rap, and this album gives me that.

Album dibuka dengan track Wake. Cuma lagu instrumental. Tapi ini jauh lebih bagus daripada Foreward-nya Meteora yang bunyinya cuma "jedug..jedug..jedug..3x gumprang!!!"

Track kedua, Given Up. Sebuah lagu bertempo cepet tanpa Mike Shinoda ikutan ngerap, how good is that? I'd given up//Im sick of feeling//is there NOTHING you can say?//Take this all the way//Im suffocating//Tell me what the fuck is wrong//with me!! Ha! Pertama kalinya LP pake kata FUCK di lagu mereka. PUT ME OUT OF MY MYSERY! Di chorusnya si Chester kembali dengan gayanya yang khas. This song is so emo. But I love it. Oya, sumpah di tengah2nya ada gitar solo mirip dengan yang sering dimainin muse buat outronya Stockholm Syndrome di konser2 mereka taun kemarin! My second favourite song in the album!

Slanjutnya, Leave Out All the Rest. Sejak kapan siy LP ngeproduksi slow balad? Ow, oke2 mereka pernah buat My December ya? Track ini ya sejenis dengan itu. In strong on the surface//Not all the way through//I've never been perfect//But neither have you//So if you're asking me I wan't you to know//When my time comes//Forget the wrong that I've done//Help me leave behind some//Reasons to be missed//And don't resent me//If you're feeling empty//Keep me in your memory. Seperti biasa, gw ga terlalu bisa menyukai suatu lagu tanpa suka liriknya (kecuali lagu dari band2 aneh kayak Sigur Ros). Dan seperti biasa, gw suka nyambung2in lirik dengan fakta. A sweet song.

Bleed it Out, Mike Shinoda is back! Gw suka cara dia nge-rap di lagu ini. Nothing much to say bout this song though. Lagu ini sepertinya direkam secara live gitu, soalya banyak suara di sekitarnya.

Shadow of the Day.. adalah lagu paling beda dibandingin dengan lagu2 yang LP pernah buat. Rada2 elektrik gitu. Kalo lo denger lagu ini di radio pasti ga kan ngira ini lagunya LP. Pop abis. Another great effort by LP, and they succeed.


Track ke-6, What I've Done. Cukup jelas :p

Lanjut, Hands Held High. Mike is back again. But it's okay, this is the last song that has his rap in it. Ngerapnya siy biasa aja, sepertinya dia sedang bercerita akan sesuatu, tapi gw males nyari liriknya. Tapi musiknya itu.. rada2 intriguing euy. Aneh! Lagu ini kayak punya aura positif di dalemnya (halah). Si chester ikutan jadi backing vocal lagi.. "Ameeen... Ameeen...". Great one.

Selanjutnya, track favorit gw, No More Sorrow. WOW. Itulah yang pertama kali gw ucapkan waktu gw dengerin lagu ini. Drumnya itu man, kayak mau perang aja! So damn cool! 'Nuf said.

Next, Valentine's Day. Gw ga mood buat ngereview lagu ini, sorry. Mungkin suatu saat gw bakal suka ni lagu. Mungkin nanti.

Hah? Di track yang ke-10 ini, In Between, si Chester ga ikut nyanyi. Mike Shinoda does. Tapi dia ga ngerap! Dia nyanyi pop! Wahahahaha. Sayang banget ni lagu ga ada chorusnya, jadi kayak datar aja dari awal sampe akhir. Padahal gw pengen denger si Mike teriak2 ala emo sambil pake celana ketat.

Track 11, In Pieces, punya bagian2 yang ga tau kenapa ngingetin gw ama sebuah band lokal yang ga mau gw sebutin namanya. Apanya ya.. perkusinya kayaknya. I don't know. It's a regular song in my opinion.

Track terakhir, The Little Things Give You Away, si chester nyanyinya pelan banget. Lagi2 lagu yang beda dengan lagu2 LP yg lain. Ada gap gitar solo yg cukup panjang di tengahnya, menjadikan lagu ini lagu terlama yang LP pernah buat (6 menit lebih). Gw belum serius ngedengerinnya, ntar gw dengerin lagi deh sambil belajar buat Try Out hari Senin.

Overall, this is a very good album. Masih belum ngalahin kesukaan gw ama Hybrid Theory waktu gw masih SMP sih, tapi jauh lebih bagus lah kalo dibandingin ama meteora. Musiknya lebih bervariasi dan di album ini LP udah melangkah ke arah yang benar. Gw harap mereka bakal terus buat album kayak gini, dan jangan, JANGAN, jangan pernah berpikir buat join album dengan 50cent. Dengan JayZ aja ancur apalagi dengan dia, pokoknya ga usah yang aneh2 gitu lah. Shinoda keluarin aja, let him rot in the Fort Minor. LP is Chester. Bagi gw Mike cuma penyanyi figuran di LP. DJ Han juga ga terlalu penting di LP. Dia jadi video maker aja, video dia keren2!;)

Wednesday, May 30, 2007

Maniac...Depressive...

I'm so happy. Cause today I found my friends.
They're in my head. I'm so ugly. But that's ok.
'Cause so are you. We've broke our mirrors.
Sunday morning. Is everyday for all I care. And I'm not scared.
Light my candles. In a daze cause I've found god.

Yeyeyeayeaaah,,,

I'm so lonely. And that's ok.
I shaved my head. And I'm not sad. And just maybe.
I'm to blame for all I've heard. And I'm not sure.
I'm so excited. I can't wait to meet you there. And I don't care.
I'm so horny. But that's ok. My will is good.

Yeyeyeayeaah,,,

I like it. I'm not gonna crack.
I miss you. I'm not gonna crack.
I love you. I'm not gonna crack.
I kill you. I'm not gonna crack.

Nirvana - Lithium.

What the hell is this song all about?



Setelah lama ga denger lagu2 Nirvana, gw kembali ketagihan ama salah satu lagu mereka dari album NEVERMIND yang berjudul Lithium (ketagihan ama Smells Like Teen Spirit juga tentunya, tapi sekarang gw cuma mau ngebahas Lithium). Tertarik dengan liriknya, gw pun research di wikipedia. Setelah ngobrol2 dikit dengan pak Wiki, Pak Wiki pun akhirnya mau menceritakan arti dari lagu ini. Beliau bilang lagu ini bercerita tentang seseorang yang terkena penyakit Maniac Depression, atau mungkin lebih dikenal dengan sebutan Bipolar Disorder.

Makin tertarik, gw pun baca-baca artikel mengenai maniac depression atau bipolar disorder ini. Dari yang gw baca, orang yang menderita penyakit biologis PLUS psikologis ini punya ciri2 khusus yaitu seringnya terjadi perubahan mood pada si penderita. Seperti namanya, Bi(dua)-Polar(kutub) Disorder, orang yang punya penyakit ini memiliki rentang mood yang sangat luas, dan perubahan dari satu mood ke mood lain bisa terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Di satu saat dia bisa jadi maniak (sangat senang, memiliki perasaan gembira yang meledak-ledak, sangat antusias pada sesuatu, seperti orang gila), namun beberapa hari kemudian, atau jam, atau menit, atau bahkan detik, dia bisa berubah mendadak menjadi orang yang sangat depressive (mengalami perasaan sedih yang amat sangat).

Kasian ya.. orang yang punya penyakit ini. Hidupnya ga jelas. Dan yang pasti, tuh orang pasti jadi weird banget di mata orang lain.

Kebayang... misal si F terkena Bipolar Disorder. Siang harinya dia seneng2 jalan ama temennya, gila-gilaan. Namun pada malam harinya, sebelum tidur, dia bisa nangis darah seakan-akan dia tuh sendirian di dunia ini.

Mungkin kita mikir, wajar aja kali namanya juga manusia kadang bisa senang kadang bisa sedih.

Kenyataannya ngga gitu. Kalo orang normal, senang dan sedih itu jelas batasnya. Orang normal punya alasan buat senang, begitu pula alasan buat sedih. Terlebih lagi, alasan2 itu memang asli, exist, bukan imajinasi atau buah pikiran belaka. Lagian perubahan mood orang normal ga akan terlalu drastis seperti yang terjadi pada penderita Bipolar Disorder (kecuali pada kondisi-kondisi tertentu, misal: si A orang normal, dia lagi seneng banget karena menangin lomba voli internasional. Piala kejuaran voli itu dijunjungnya tinggi-tinggi dengan penuh kebanggaan. Namun tiba-tiba dari pengeras suara ada pemberitahuan bahwa ibu, bapak, dan semua sanak saudara si A baru saja meninggal dunia semenit yang lalu karena rumah mereka kejatuhan pesawat terbang yang melakukan landing darurat. Si A pun mendadak jadi depresive. Ini mah wajar.)

Sedangkan orang yang maniac-depressive ga punya pembeda yang jelas antara senang dan sedih. Moodnya bisa berubah dari sangat senang menjadi sangat sedih ataupun sebaliknya tanpa perlu ada alasan yang logis.

Tingkat keparahan penyakit ini pun berbeda-beda. Yang paling parah yaaa bisa diliat di Rumah Sakit Jiwa di jalan Riau 11, dimana seseorang yang lagi ketawa bisa tiba-tiba menangis dalam hitungan milisecond. Sedangkan yang ngga parah-parah amat perubahan moodnya masih rada wajar lah (walaupun tetep aneh karena berubahnya sangat sering dan drastis)

Untungnya, penyakit ini sekarang sudah bisa diobati dengan obat (jadi bukan hanya secara psikologis). Biasanya obatnya disebut "mood stabilizer". Salah satu bahan utama dari mood stabilizer ya itu tadi, Lithium, makanya si Curt Cobain yang konon punya penyakit Bipolar Disorder ini bikin lagu dengan judul tersebut.

Ngomong-ngomong, gw kenal dengan seseorang yang punya penyakit ini. Seremnya, tiap malam dia tidur di kasur gw. Gila ngga sih.

Thursday, May 3, 2007

Bukan tentang Sigur Ros

GLEK.. bulan april kemaren gw ga nulis satu postingan pun! Di postingan terakhir kan gw bilang kalo blog ini bakalan pake sistem sambung-menyambung. Maksud gw yang sambung menyambung tuh temanya, tapi ternyata malesnya juga dari dulu sampai sekarang masih nyambung terus.. Arrgghhh malesbanget.com.

Jadi di akhir postingan kemarin gw nulis kata "minimalis", seharusnya postingan INI bakal ngejelasin tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan minimalis, seperti gaya rumah minimalis (tapi ini ga mungkin karena gw bukan dealer rumah), potongan rambut yang minimalis (tapi ini udah pernah), atau grup band yang beraliran musik minimalis baik band lokalan kayak Minoru maupun band minimalis aneh asal Islandia yang bernama Sigur Ros. Tapi gw ga bisa. Gw sedang ga bisa ngebahas hal-hal yang berbau minimalis. GA BISA. Hati gw sedang maksimalis (whatever it's supposed to mean). I'm in LOVE.

Tapi biarpun begitu, supaya ga melenceng-melenceng banget dari tema minimalis, gw bakal ngebahas sedikit tentang Sigur Ros dulu deh. Nama "Sigur Ros" kalau diterjemahin ke bahasa Inggris artinya "Victory Rose", yang kalau diterjemahin ke bahasa indonesia berarti "Mawar Kemenangan". Kalau gw ga salah, kata "kemenangan" sendiri kalau diterjemahin ke bahasa Arab jadinya "Fauzi". Gw heran kenapa ortu gw dulu ngasi nama gw yang berasal dari bahasa arab. Keren sih.. FAUZI.. iya keren. Tapi gw ga suka fakta bahwa nama gw berbau-bau arab. Najis mutawasitoh, atau mungkin mugoladoh? ntar deh gw cari di kitab shahih, siapa tau di situ ada riwayat yang ngejelasin kalau nama orang yang berbau arab tuh jenisnya najis apa.

Masih tentang Sigur Ros. Aliran musik mereka unik, enak, ga bikin enek, dan yang pasti musiknya ga pake skala yang biasa dipake di lagu-lagu arab. Ok, cukup ngomongin Arabnya. Sigur Ros udah ngeluarin beberapa album, yang semuanya aneh. Musiknya ga cocok buat didengerin ketika pesta atau shopping. Musik mereka lebih enak buat didenger pas candle light dinner, mau tidur, belajar, baca buku, olahraga soliter yang membutuhkan ketahanan tubuh, nulis blog, atau ML (yang terakhir gw belum pernah coba, tapi kayanya bakal cocok banget). Trus, yang bikin musik mereka ga ngeganggu konsentrasi pas lagi belajar adalah, lirik mereka bukan pake bahasa manusia. Jadi kalo dengerin lagunya Sigur Ros sambil belajar kamu gak akan ngedenger lirik seperti "biarkan waktu..hapus..hapus...aku.." atau lirik sejenisnya yang bisa ngeganggu konsentrasi belajar. Mereka orang Islandia, dan bahasa Islandia aja udah lieur, tapi lirik mereka bukan pake bahasa Islandia, melainkan sebuah bahasa yang lebih ribed dari bahasa Islandia yang mereka ciptain sendiri. Para fans menyebutnya bahasa Hopelandic. Mungkin hal ini dikarenakan oleh musik mereka yang ngebikin semangat orang yang ngedengernya, walaupun liriknya ga bisa dimengerti.

Musik mereka emang slow, tapi ga mellow, dan arti dari liriknya tuh Open-Ended. Meaning? Meaning, arti dari liriknya tuh terserah pendengar mau ngartiinya kayak gimana. Pada booklet yang ada di dalam salah satu album mereka yang berjudul ( ) [iya, judul albumnya cuma kurung buka kurung tutup]--yang seharusnya diisi lirik--terdapat kekosongan. Putih. Di belakangnya ada tulisan yang artinya kira-kira: "Silahkan tulis sendiri liriknya". An Open Ended album. Great.

Lagu favorit: Vaka, Njósnavélin (The Nothing Song), Hoppipolla, Popplagið, dan masih banyak lagi.
Album Favorit: ( ), Agaetis Byrjun
Album Paling Jelek: Von Brigði / Recycle Bin / Tempat Sampah.

note: album Von Brigði yang artinya Tempat Sampah bukan dibuat oleh Sigur Ros. Lagu-lagunya sih milik Sigur Ros, tapi di cover alias dimainkan oleh kumpulan band-band aneh yang sealiran dengan Sigur Ros (contoh: Mum, Plastimic, Gus Gus, ah pokonya aneh2). Jadi bukan Sigur Ros langsung yang mainin lagunya. Gw ga suka album ini karena musiknya terlalu elektronik. Ga seindah musiknya Sigur Ros. Jeleknya absolut pokonya.

Udah ah cukup pembahasan tentang Sigur Rosnya. Seperti tadi gw bilang, gw lagi ga mood ngomongin tentang hal-hal yang berbau minimalis. Gw lagi maksimalisssss, whatever it meannsss. Gw baru aja jadi penjahat dan pengkhianat. Eh, sebenernya bukan gw yang jahat sih, tapi Amygdala gw yang ga mau kompromi dengan si Cerebellum. Si cerebellum di kepala gw sebenernya dari dulu sibuk mikirin logika dalam cinta, sampai gw pernah nulis postingan superlogis tentang bodohnya pacaran anak muda yang dulu pernah gw post di boleh.com. Tapi dasar amygdala gw ini warisan dari nenek moyang gw si Homo Sapiens pertama di muka bumi, bagian otak ini bisanya cuma bikin hidup gw lebih hidup, tanpa mau mikirin 0-1-1-0-0-1-1-1-0-0 nya kehidupan. Dan sepertinya gw juga udah agak muak jadi robot superidealis sok bener yang bergantung banget ama cerebellum dan hidup dalam dunia grayscale. Gw pengen beli crayon 32 milyar warna supaya gw bisa ngewarnain dunia gw yang dulunya ngebetein abis. Gw ga akan sih ngilangin warna abu-abu dalam hidup gw, gw juga ga akan ngilangin warna hitam dan putih. Warna-warna grayscale bisa jadi fun banget kalo digunakan dengan penuh kesadaran. Tapi selain itu gw juga pengen nyoba warna-warna lain yang bisa bikin hidup gw lebih hidup. Seperti kata kakak Funrecord yang sering mangkal di boleh.com: Life for Fun. Yeah.. life is supposed to be for fun, i guess. Selama kesenangan itu ga sampai ke tahap ketololan, ntar jadinya kayak Kurt Kobain yang kehabisan ide buat senang-senang.

Bagaimana dengan kehidupan akhiran? itu hal lain, ga cocok buat di tulis di sini. Gw ga pengen ngomongin yang aneh2 dulu. I'm in love.


Thursday, February 1, 2007

Nonton Konser Muse

Note: Sebenarnya gw pengen ngasi judul "Near Death Experience" (karena suatu alasan yang nanti gw jelasin di bawah), tapi karena inti dari postingan ini adalah menceritakan pengalaman gw nonton konsernya Muse pada tanggal 31 Januari 2007, ya udah gw kasih judul Nonton Konser Muse aja. Selain bercerita tentang konsernya Muse, gw juga bakal ngasi beberapa tips buat kamu-kamu yang mau datang ke konser Muse di Istora Senayan Jakarta tanggal 23 Februari nanti. Semoga tips-tips sederhana ini dapat memberikan keselamatan bagi yang mengamalkannya. Amin.

note: Sebagian tulisan di bawah ditulis pada tanggal 1 Februari dan sebagian lainnya ditulis hari ini (7 Februari). Sempat tertunda karena kerja dapetnya shift pagi terus, jadi ga bisa begadang (bagi gw nulis blog lebih enak malem2, ga banyak gangguan setan, literally)

Anyway, akhirnya keinginan gw buat berada di dalam satu ruangan bersama Matt Bellamy, Chris Whateverhislongname, dan Dominic Howard terpenuhi. Sebuah pengalaman yang menggetarkan hati, memompa keringat, membakar sukma, dan menciptakan angkara (halah). Biar lebih enak, gw ceritain dari awal aja deh.

Melbourne, kemarin, tanggal 31 Januari 2006, seperti biasanya gw bangun tidur jam 2 siang. Setelah makan, mandi, ngga lupa sikat gigi, gw pake baju lagi. Setelah itu pake parfum.. (ngga penting banget sih), intinya, gw berangkat dari rumah jam 4 sore. Di kantong kanan celana PDL gw ada passport, sebagai indentitas diri. Kalo ngga bawa passport takut disangka teroris, soalnya baju gw item-item (teroris normal biasanya pada pake baju putih ya? kalo gitu gw mirip teroris sayap kiri deh). Dan juga kalo ga ada identitas gw takut ga boleh masuk, karena gw beli tiketnya yang General Admission, atau bahasa Indonesianya mah: Festipal, alias berdiri, yang boleh masuk ke area itu cuma orang2 yang berumur 18 tahun ke atas.

Jam lima lewat dikit gw sampai di Flinder Street. Janjian ketemu ma temen gw yang juga mau nonton Muse. Jam lima lewat tiga puluh kita udah sampai di depan Festival Hall, tempat Muse akan manggung. Festival Hall ini bangunan yang cukup tua, pernah dipakai konser The Beatles kalo ga salah. Denah bangunannya kalau diliat dari atas kaya pulau jawa.

Kaya pulau jawa kan? (Pakai imaginasi ngeliatnya)

Menurut jadwal, konsernya dimulai jam 8 malam. Gw sengaja datang 3 jam sebelumnya karena takut ngantrinya panjang. Sebulan yang lalu, waktu Muse konser di Singapura, gw baca di koran online katanya fans yang mau nonton konser Muse udah mulai ngantri dari jam 6 pagi. Padahal konsernya dimulai jam 8 malam. Tapi ternyata konser kemarin ini rada aneh, karna saat gw datang, jam 5.30 sore, di luar Festival Hall cuma ada sekitar 20 orang. Waah jangan2 muse ngga laku nih konsernya, pikir gw. Karna konser ini memang konser malam kedua, jadi yang datang cuma orang-orang "sisa" aja. Maksudnya, tadinya Muse cuma ngadain konser satu malam, tanggal 30 Januari aja. Tapi karena tiketnya habis dalam waktu kurang dari satu jam, akhirnya mereka ngadain konser malam kedua gitu, supaya yang ngga kebagian tiket malam pertama masih bisa nonton di malam kedua. Tapi gw yakin gw salah. Semua buku bahasa Indonesia buat sekolahan juga pasti bilang bahwa kalimat Konser Muse ngga laku adalah salah. Frase "konser muse" dan "ngga laku" ngga bisa ditulis di dalam satu kalimat.

TIPS 1: Datanglah sekitar 6 - 10 jam sebelum konser dimulai! Menurut gw konser di Indonesia nanti bakal mirip dengan konser mereka di Singapura, penontonnya pada datang lama sebelum konser di mulai (maklum, konser pertama Muse di Indonesia). Jadi kalo mau dapet tempat yang enak pas nonton, harus datang duluan. Jangan lupa bawa minum air putih, minuman berenergi, nasi pake lauk daging (jangan kebanyakan lemaknya, nanti pusing), sayuran, dan buah-buahan. Kalo bisa bawa juga Viagra atau lebih bagus lagi Cialis, supaya kalo sedang dempet2an, orang yang berdiri di depan anda saat konser nanti mau menyingkir. Satu lagi, bawa KARTU! Mau kartu remi boleh, kartu gapleh juga ga masalah. Tapi kalau ngga ngerti cara main remi, cangkulan, 4-1-an, poker, atau bahkan gapleh, ya udah satu-satunya saran gw bawa aja kartu isi ulang pulsa HP yang banyak, biar bisa nelpon2an dengan temen sekalian nunggu pintu masuk Istora Senayan dibuka. Kalo ngga bawa kartu, bisa mati bete.

Satu jam kemudian, pikiran gw jadi ngga karuan. Masalahnya, gw kan pengen pipis, terus gw tanya ke salah satu penjaga pintu masuk:

"Mas, di deket sini ada WC ngga?" (pake bahasa inggris tentunya),

dia bilang:
"Oh, ada dek, tapi WCnya di dalem gedung ini. Adek gak bisa masuk sampai pintunya dibuka".

Dibukanya kapan?"

"Nanti kalau saatnya tiba, dek"

"Saatnya tiba jam berapa mas?"

"Mungkin jam 7-an, tapi saya ngga bisa janji dek"

Haduuh anjrit! Kenapa di saat-saat genting seperti ini gw malah pengen pipis! Gw berencana berlari ke Stasion Flinder karna di sana ada WCnya, tapi hasrat itu gw tahan, takut nanti konsernya udah mulai duluan sebelum gw balik.

Akhirnya, setelah penantian yang membetekan (soalnya gw ga bawa kartu, lagian di sini kynya ga ada yang bisa main cangkulan), jam 7 lewat dikit, pintu-pintu masuk pun dibuka berbarengan. Orang-orang pada ngantri di depan pintu masuk yang berbeda-beda, tergantung nomor pintu yang tertulis di tiket masing-masing. Gw masuk lewat pintu nomer 5 (totalnya ada 17 pintu)

Pas lagi ngantri, samar-samar gw ngedenger sepasang cowo-cewe yang sedang ngobrol pake bahasa Indonesia di belakang gw. Walaupun gw ngga yakin mereka itu orang Indo, gw tanya aja:

"Dari Indonesia?"

Note: Setelah dipikir-pikir, gw baru nyadar kalo pertanyaan ini adalah pertanyaan bodoh yang ngga mungkin bisa dijawab dengan "bukan". Pertanyaan ini cuma bisa dijawab dengan "Iya" atau "I don't know what the fuck you are talking about!"

edit (7 Februari) : Ga jadi ketang. Kalo dipikir-pikir lagi, orang bule juga ada yang bisa bahasa Indonesia, trus orang Malaysia juga kan bahasanya mirip.

Ternyata mereka memang dari Indonesia. Woyy.. yang ngerasa bernama mereka.. Abis konser kemaren ngilang kemana? Klo somehow loe berdua baca ini, add YM gw yah, idnya uzi_hiers ! :D

TIPS 2: Kalau ketemu orang yang bisa berbahasa Indonesia, ngga perlu bertanya "dari Indonesia?" karena saat konser di Indonesia nanti kemungkinan yang nonton emang orang Indonesia semua.

TIPS 3: Kalo bisa bawa kantong pipis. Buat aja pake botol aqua, iketin di paha atau betis. Trus sambungin ke *itu* pake selang.

(ps. gw cuma bercanda, tapi klo mau buat beneran, silahkan)

Di pintu masuk semua penonton digeledah. Peraturan di Festival Hall melarang penonton untuk membawa kamera, kamera video, alat perekam suara, alkohol, kaleng, botol, pisau, senapan mesin, granat, RPG, koper, detonator, dan alat-alat lain yang bisa mengganggu kelancaran konser. Temen gw kebetulan bawa mp3 player merek Creative berkapasitas 30 GB yang bisa dipake buat ngerekam suara. Karena takut ga boleh masuk, dia sembunyiin di dalem celana dalem. Kebayang ga sih 30 GB tuh segede apa?

Setelah proses yang deg-degan, akhirnya kita berhasil masuk. Di dalem ternyata ngga padet2 amat (atau lebih tepatnya, belum). Penonton yang dapet tiket untuk berdiri pun pada duduk-duduk dulu di lantai (yang seharusnya dipake buat berdiri). Di panggung, ada alat-alat musik (jelas lah). Selain itu, juga ada sesuatu yang ditutup oleh kain hitam (menurut dugaan gw, itu drumnya Dominic). Di belakang panggung ada 6 tabung spiral yang gw ga tau gunanya untuk apa, dan didepan tabung2 spiral itu ada semacam jaring besi yang ternyata berfungsi sebagai layar. Sementara itu kursi2 yang terletak di samping dan belakang aula masih kosong. Di kanan dan kiri aula ada balon-balon supergede yang memang udah jadi trademarknya konser muse.

Foto diambil dari flickr.com, dipotret oleh 'awgreen'

Btw, waktu itu gw ga bawa kamera digital buat foto-foto *manyun*. Kamera digital yang ada di rumah gw ukurannya segede sepertiga batu bata. Ga mungkin gw umpetin di celana dalam gw yang pada dasarnya emang udah menyimpan sesuatu yang juga gede. Jadi gw sendiri ga punya foto2 yang layak dijadiin kenang2an. Bisa sih pake kamera di HP, tapi dengan kurangnya cahaya di dalem ruangan, gambarnya pasti blur abissss. Hiks. Untung aja bisa dapet beberapa foto di internet yang mungkin diambil oleh orang2 yang punya kamera digital super kecil yang bisa disumputin di kelek atau pantat. Konser di Festival Hall ini salah satu konser yang susah banget dicari fotonya. Di flickr.com aja cuma ada dikit. Bahkan di microcuts.com (official fansite-nya muse) ga ada foto untuk konser malam kedua sama sekali. Untung di sana ada beberapa foto dari malam pertama, yang (kalo diliat dari fotonya) 99% keadaanya sama persis dengan malam kedua. Bedanya cuma satu: malam pertama Matt pake kaos warna putih, malam kedua dia pake baju warna item.

Setelah gw keWC, sambil nunggu acaranya di mulai, gw pergi ke tempat penjualan marchandise yang terletak di belakang ruangan dan beli baju yang harganya $40 dolar. Kemahalan sih untuk sebuah t-shirt, tapi karna baju bertuliskan MUSE ini ngga dijual di manapun selain di situ, ya udah gpp deh gw beli. Daripada mesen dari UK lewat ebay, murah tapi ongkos kirimnya mahal.

TIPS 4: Kalo ada rencana beli baju Muse, celengin duit yang banyak dari sekarang. Tapi nanti pas konser jangan bawa uang receh; ribet, berat, susah ngitungnya, dan bisa ngebuat celana melorot. Tukerin aja ke bandar Ding-Dong, mereka biasanya butuh uang receh. Kalo di sini harganya $40, di sana mungkin sekitar 100-200 ribuan. Mahal? Emang. Kalo mau yang murah mungkin bisa nyoba buat di distro bareng temen-temen, sekalian gw nitip ya? email gw plizz!!

Setelah itu kita berempat (gw, temen gw, dan dua orang temen dari Indo yang baru kenal) duduk2 lagi di depan panggung (well, hampir paling depan). Dan gw sempat ambil poto pake kamera hp yang berkualitas jongkok:


Waktu pun berlalu dengan lambatnya. Setelah beberapa lama ngobrol2 (sampai ngantuk dan hampir ketiduran) gw iseng liat ke belakang.. eh ternyata.. aulanya udah penuhhh bgt. Kursi-kursi untuk para penonton yang dapet tiket duduk (seated ticket) juga udah penuh semua.

Tiba-tiba (baca: TANPA ABA-ABA), semua orang yang tadinya duduk di lantai berdiri dan berlari memperebutkan tempat terdepan (kecuali yang emang dapetnya tiket duduk). Njrit, gw kalah cepet. Gw kira2 ada di baris ke4.

Lantainya Festival Hall ngga adil. Dari batas depan sampai kira-kira satu meter ke belakang tuh ada pijakan kaki setinggi 12,75 centimeter (hasil perkiraan). Jadi orang-orang yang berada di baris terdepan, baris kedua, dan baris ketiga bisa berdiri di atas pijakan itu. Mereka jadi lebih tinggi, menghalangi penonton2 yang dibelakangnya. Gw ada di baris keempat. Mampus dah. Udah gitu, orang yang tepat berada di depan gw tuh tingginya kayak monas. Udah tinggi, berdiri di atas pijakan pula. MENJULANGLAH DIA KE ANGKASA. Sedangkan gw yang sejak lahir emang udah jadi orang Indonesia yang memiliki tinggi tubuh sederhana hanya bisa berdiri di belakangnya (atau bawahnya?) dan cuma bisa meratapi nasib. Nasib...nasib...

TIPS 5: Berusaha cari tempat sedepan mungkin. Kalo bisa di barisan ke-1, 2, atau 3.

Setelah nunggu beberapa saat, lampu pun dimatikan. Seluruh ruangan jadi gelap gulita. Dan... tebak siapa yang datang?

Pembaca: Muse!!!
Gw: Salah.

Sebuah band pembuka bernama (kalo ngga salah) The Ground Component datang ke panggung. Mereka sebenarnya mainnya lumayan bagus sih, tapi sayangnya gw ngga hapal lagu mereka dan ngga tau siapa mereka. Dan yang paling penting, kita semua datang untuk nonton MUSE. Jadi mereka kurang dapet tanggapan dari penonton gitu. Setiap mereka selesai memainkan lagu paling2 cuma ada tepuk tangan sedikit (prok-prok-prok, udah). Mereka main selama hampir 50 menit. Banyak juga komentar2 pedas yang dilontarkan oleh penonton pada mereka seperti:

"Are you Muse?" (nyindir maksudnya)

"We don't know you"

Sampai mereka menyelesaikan lagu terakhir dan mengucapkan kalimat penutup pun ada yang bilang:

"Whatever mate I have no idea who you are"

Duh.. kasian yah jadi band pembuka. Gw sebenernya suka beberapa lagu mereka, ntar download ah, kapan-kapan.

edit (7 Februari 2007) : Ternyata susah nyari lagu mereka. Di website2 torrent aja ga ada-_-

Anyway, setelah mereka turun panggung, suasana panas lagi. Tapi lama-lama suasana panas itupun mendingin lagi karena yang muncul di panggung bukannya Muse melainkan para teknisi yang ngebawa alat-alat musik yang tadi dipake oleh The Ground Component ke belakang panggung. Abis itu para teknisi itu ngelepas kain hitam yang sejak tadi bikin gw penasaran. Seperti dugaan gw, di dalamnya ada sebuah drum yang gede banget. Warnanya juga bagus: transparan. Selain itu juga ada piano berwarna putih, synthesizer, dan panel2 warna-warni mirip coklat M&M.

Para teknisi itu mulai nge-soundcheck alat-alat musik yang nanti akan dipake Muse. Dari mulai piano, bass, sampai gitar berwarna hitam yang ada 'touchscreen'nya (kaoss pad). Nyetingnya ngga kira-kira, setengah jam! Untung dari speaker gede di ruangan itu sayup2 terdengar lagu2 yang dimainkan secara random dari CD (atau mp3, gw ga tau), jadi bisa mengurangi sedikit kebetean. Gw ga apal sih lagu siapa aja, yang gw tau ada Rage Against The Machine - Killing in the Name dan Arcade Fire - Lies.

Kira-kira jam 9.20, lampu dimatiin lagi. Dan saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pertama, Morgan ("anggota" Muse ke-4 yang sejak dirilisnya BHAR selalu ikut di konser Muse, mainin synth untuk lagu2 yang butuh tambahan personil seperti Map of the Problematique) datang ke panggung dan langsung ambil posisi di depan panel2 aneh tadi. Lalu Dom, Chris, dan Matt..
(kejadian ini gw liat dari celah2 leher orang2 di depan gw, sambil jinjit)

Tanpa say hello dan basa-basi, synth berbunyi orkestra dari Take A Bow langsung kedengeran dari sound system yang dahsyat. Aula pun jadi kerasa makin padet (penonton di belakang dorong2 ke depan). Pas musiknya ganti jadi tekno pun semuanya teriak "wooooo!!!!!!!!!" dan setelah Matt nyanyi "whaaatttt weee'veeee becoooome... is contrary to what we waaaaaaant" penonton ikut nyanyi: "TAAAAAAKE A BOOOWWWWW" Woahhhh!! Merinding gw ngedengernya. Saat itu indra pendengaran gw lebih sensitip, karena emang indra penglihatan gw terganggu (pandangan gw ke panggung sering kehalangan>.<) Bule berbadan besar bajingaaaaan!!!!

Lagu pun terus berlanjut sampai "Burrrnnn...You will buuurn... You will buuuurn in helllll yeaa you'll burrrrn in heeellll you burn in hell you burn in hell for all your siiiiiiiiiiiiiiiiinssssss...... waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa" (sementara lampunya kelap-kelip terang gelap terang gelap)

TIPS 6: Klo kamu punya penyakit epilepsi/ayan, jangan dateng ke konser Muse. Lampu panggungnya sering kelap-kelip. Pencahayaannya terlalu 'wah'. Orang yang punya epilepsi ga boleh liat cahaya kelap-kelip kan? Gw sih bukan kasian ke orang yg kena epilepsinya, tapi klo orang itu bener2 kejang2 pas konser, kasian penonton yang laen keganggu.

Penonton: whoaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!! woooooooooooo!!!!!!!! waaaauuuuuuuu!!!!!! *tepuk tangan*

Gw sih cuma bisa ngeluarin suara2 "whoaaaaa", "wuuuuuuuu", dll tanpa melakukan tepuk tangan, karena untuk tepuk tangan dibutuhkan kedua tangan sedangkan tangan gw satunya bawa kaos Muse yang tadi gw beli. Lagian suasana padet banget, susah buat mindahin tangan dari bawah ke atas (beneran, sampe segitunya).

Lagu kedua, Hysteria. Dorong2an jadi makin keras, apalagi saat Matt melakukan gitar solo sambil melakukan jalan ke samping tapi kakinya ga diangkat dari lantai, jadi kaya bergerak pake roda gitu. Sampai saat ini, gw mulai kesusahan untuk bernafas.

Hysteria (dari flickr.com, diambil oleh 'no-necked')

Ketiga, Supermassive Black Holes. Penonton loncat2 sebentar (pas intro). Sepanjang lagu ini gw ngelakuin robotdance kecil2an (maklum hemat tempat). Robotdance? Bukan, bukan dance yang kaya orang kaku gitu, bukan. Tapi dance ala pasukan robot supermassive black holes! Selama lagu ini dimainkan, di layar gede ada animasi puluhan robot yang menari2 dengan gerakan yang lemah gemulai. Gw nemu rekamannya di youtube (walau kualitasnya kurang bagus tapi lumayan) http://www.youtube.com/watch?v=YL7YRHMuClM Oooooooohhh the memoriieess!!

TIPS 7: Saat supermassive black holes dimainkan, ga usah ngliatin Matt nyanyi. Lebih enak nonton gambar pasukan robot menari2 di layar gede, dan ikutlah menari. They're so cute, hehe.

Next, Butterflies and Hurricanes. Wuuuhuuu! Salah satu lagu live favorit gw niy. Beda dengan yang di album, di versi live ini sebelum piano solo ada gitar solo nya. Secara keseluruhan lagu ini keren banget lah.. Tapi bagi gw highlight lagu ini pada malam itu bukan pas Matt mainin piano klasik ala Rachaminov, melainkan pas di chorus terakhir. Semua penonton ikut nyanyi.. "BEEEESSSTTTT!!! YOU'VE GOT TO BE THE BEEEST!!! YOU'VE GOT TO CHANGE THE WORLD!!!", gw sampe mengeluarkan air mata, bukan karna sedih, tapi karna:

1. Kedorong2 dari belakang keras banget. Badan gw yang udah tipis jadi makin tipis.
2. Gw nyanyinya keras bgt karna sambil ngeluarin seluruh unek2. Tenggorokan gw sampe sakit.

TIPS 8: Ikut nyanyi! Singalong! Kapan lagi bisa nyanyi bareng ribuan fans Muse!?

Kelima, Map of the Problematique. Versi live ini ngga seasik versi album ah. Mungkin karena suaranya kurang "full" kali yah. Di lagu ini gw lebih memfokuskan pendengaran gw ke suara ritme drum-nya Dom ("Dug! tak! dugudugudug tak!"). Sedikit kecewa. Padahal gw dulu ngebayangin lagu ini klo didengerin live bisa kaya ajeb2 di club (bersamaan dengan ribuan orang). But it didn't happen. Kesenangan malah datang ketika lagu ini selesai, mereka mainin riffnya lagu Maggie Farm (Rage Against the Machine), dan gw pun melakukan hal yang pasti dilakukan oleh siapapun yang mendengar riff ini: headbanging, atau banting2in kepala (ke udara, bukan ke lantai). Agak ditahan sih, maklum hemat tempat.

Map of the Problematique (diambil dari flickr.com, dipotret oleh 'no-necked')

Setelah penonton tepuk tangan dan meneriakan woooooooooooh yang panjang, Matt nuker gitarnya ke gitar akustik. Lalu..

Stay away from me..
Build a fortress and shield your beliefs..
Touch the divine as we fall in line..
Can I believe..
When I don't trust..
All your theories turn to dust..
I choose to hide..
From the All Seeing Eye

Apalagi kalo bukan City of Delusion! Di lagu ini penonton agak kalem dan ga dorong2. Tapi kita ikut tepuk tangan di verse kedua (setelah bass solo-nya si chris). Suara terompet yang ada di album dimainkan oleh Matt pake gitar akustik. Manteb lah. Cuma satu kurangnya: Matt teriak "I will avengeeeee!!!"-nya pake suara falsetto, padahal kalo ngikutin suara yang di album pasti bisa buat bulu kuduk merinding.

Setelah itu, Matt ngambil gitar yang senarnya ada tujuh. DEG! Gitar bersenar tujuh? Jangan-jangan... jangan-jangan...

"Alright, this one's an old one", katanya.


Fuck yes!

CITIZEN ERASED!!!

Woaaaaa!! Surprise!! Lagu langka dimainin juga. Penonton bergejolak lagi. Citizen Erased ini emang lagu yang paling dinanti oleh para fansnya Muse, termasuk gw! Walau sakit didorong2 dari belakang masih sempet headbanging. Riffnya kedengeran keras banget. Btw saat itu gw udah ga tau temen2 gw ada di mana. Kita udah mencar2 pokoknya. Dorongan dari belakang makin kuat, gw sih berharap dorongan itu bisa ngebantu gw nyelusup ke bagian depan, tapi ternyata ga bisa. Pertahanan mereka (penonton2 di depan gw) terlalu rapat, celah yang ada terlalu kecil. Orang kecil seperti gw pun tetep ga bisa menyelusup. Ah ga peduli!! Setelah 3 taun penasaran, akhirnya gw bisa denger gitar solo di lagu ini secara langsung. Those squeaking sound, god.

Sayangnya gw ga bisa menghayati saat2 dramatis di lagu ini (pas matt ganti posisi dari gitar ke piano). Penonton sih rame2 ikut menepukkan tangan, tapi gw ga bisa. Feeling gw juga ga sesedih kaya waktu ngeliat lagu ini di DVD Hullabaloo. Mirip pas gw dengerin piano di Butterflies and Hurricane di konser ini, gw ga (bisa) terlalu menghayati ngedengerin suara piano manis di outro Citizen Erased. Hell, I was in the middle of the crowd of a rock concert...

Setelah itu, sambil tetep duduk di depan piano, Matt bilang:

"This is our first song from our first album"

Owwww.. Another surprise!! Sunburn! Penonton menggila lagi. Dan gw enjoy banget nyanyi bareng penonton: "She buuuuurnnnnnsssss like the suuunnn", plong banget.

Abis Sunburn, konser sempat berhenti sesaat karena ada masalah dengan penutup kupingnya Chris (gw ga tau itu penutup kuping atau speaker kecil, pokoknya itu benda yang di sumpelin di lubang telinga). Lalu Matt kembali duduk di piano dan berkata:

"This is the first time we've played this one this year"

Hah? Lagu apalagi yang first time?

Pertanyaan gw itu segera terjawab saat genderang apocalypse berbunyi dan pencahayaan di panggung berubah jadi merah pekat. Apocalypse Please..! Anjriiiiitttt triple surprise!!

Setelah lagu2 "piano" itu, Matt berdiri lagi dan mengambil gitar itemnya (gitar yang ada touchscreennya), dan suara2 efek aneh mulai diperdengarkan.

Sampai sekitar tiga puluh detik suara aneh itu mulai 'masuk' ke intronya Invincible. Di lagu ini gw sama sekali ga berusaha jinjit untuk ngeliat Matt. Gw sibuk nonton video di layar gede, yang menggambarkan macem2; dari mulai matahari terbenam, pesta kembang api, barongsai, hanoman, dll. (liat di http://www.youtube.com/watch?v=kPrrTJTT6g8). Video yang tadinya berisi hal2 'damai' itu lama2 berganti ke video gunung meletus, trus video ribuan orang yang sedang berdemonstrasi. Saat puncaknya (ketika Matt mainin gitar solo yang keren itu), videonya jadi gambar kerusuhan. Gw yakin itu gambar kerusuhan di Jakarta (ga tau tragedi Semanggi atau Trisakti atau apalah), soalnya polisinya pake baju coklat2 dan jalanannya juga mirip banget dengan jalanan kota jakarta! Gw terharu.. hehe.. padahal tadi pas outro Citizen Erased gw biasa aja. Dengerin liriknya Invincible sambil nonton video di layar gede gitu ternyata bikin gw merinding. Lagu (+video) paling dramatis di konser ini. Lucu juga, padahal dulu gw ga gitu suka ama lagu ini karena liriknya terlalu garing, tapi klo diperkuat dengan video yang pas lagu ini bisa jadi kuat banget.

Udah, sedih2nya cuma sampai di situ. Karena dimulai dari lagu berikutnya, Time is Running Out, rasa takut mulai muncul dalam diri gw.. (seriusan anjrit!)

Di lagu ini, seperti yg gw duga sebelumnya, semua penonton bareng2 nyanyiin bagian bridge-nya:

Bury iiiitt........
I won't let you burrryyy itt...
I won't let you smooother ittt......
I won't let you murder ittttttttt.............

OUR TIME IS RUUUUNING OUTTT!!! sambil loncat2 gila2an. ANJRIIIITTTTT!! Kaget gw. Gw ikutan loncat setinggi2nya. Abis verse kedua, pikiran gw udah parno banget. "Bury it" (oh no I have to jump!! Or else I'll get buried!$%^!) "smother it" (Dammitt! If I've got buried, I will be smothered by thousands of fans!) "murder it" (I don't wanna dieeeeeeeeee!!!! I have to survive!!) OUR TIME IS RUUUNING OUT!!! Gw pun berusaha ngikutin loncatan penonton supaya ga keinjek2. WOOOOHOOOOOOOOO!!! Saat loncat2an, rasa takut pun kayanya hilang. Yang ada cuma satu: euphoria. It's the best feeling i've ever had since long time!! WOOOAAAAAHHH!!!!!! YOU CAN'T PUSH IT UUUUNDERGROUUUUUNDDD!!! WE CAN'T STOOOOP IT SCREAAAAAAMING OUUUUT!!!

Setelah Time is Running Out selesai, tanpa ada jeda, gitarnya matt langsung melengking2. Semua orang pinter tau klo gitarnya Matt Bellamy udah melengking2 berarti dia bakalan main Plug in Baby. Kegilaan terus berlanjut. "MY PLUGGGINNNN BAAAABBBYYYYYYYYY", kita semua nyanyi barengan. Woaaaaah sooo freeeee!!!!!! Di akhir lagu, balon2 besar pun berjatuhan dari langit2.


Balon on Plug in Baby (diambil dari flickr.com, dipotret oleh 'no-necked')

Penonton pun berusaha memecahkan balon2 rakasasa itu. Beberapa kali balon2 gede itu mampir di atas gw, tapi sebelum gw bisa mencapainya, orang2 bule brengsek berbadan gede udah menampiknya duluan. Shit... gw ga kebagian balon!!

Dalam waktu kurang dari dua menit, semua balon itu meledak. Muse pun pergi meninggalkan panggung.

Penonton menghentak2an kakinya di lantai, mengharapkan sebuah encore.

note: Encore maksudnya meminta mereka supaya kembali kepanggung. Ini sama sekali ga ada hubungannya dengan judul album seorang penyanyi crappy asal Detroit.

Setelah hampir 3 menit, Matt dkk balik lagi ke atas panggung. Penonton bersorak gembira.

Matt membawa gitar akustik dan mulai memainkan Soldiers's Poem. Seperti yang gw bilang tadi, lagu2 slow yang 'sedih' ga terlalu pas buat konser rock gini (setidaknya bagi gw, yang sedang sekarat). Dari seluruh lirik Soldier's Poem, yang gw denger cuma: "It's a shame.. we're all dying..". Gw butuh udara segaaaarr!!

Oya, karna penonton tenang banget waktu lagu ini, gw berhasil ngambil foto (satu2nya foto yg gw ambil saat muse main di panggung). Sudut pandang dari foto di bawah ini sama sekali ga menunjukan bahwa gw tinggi, tapi tangan gw emang diangkat setinggi2nya untuk ngambil foto ini.

Soldier's Poem (Photo was taken by me :p)

Abis lagu slow itu, mereka mainin lagu paling mainstream yang pernah mereka buat: Starlight. Ah, emang asik sih lagu ini. Hampir semua penonton tepuk tangan ngikutin irama drumnya Dom. Gw juga ikutan! Kaos yg gw pegang gw jepit pake paha (mumpung penonton lagi 'tenang'), dan dengan usaha keras gw berhasil mengangkat kedua tangan. *prok* *prokprok* *prok* *prokprokprok*

Tapi di bagian bridge ("but i will never let you go") penonton loncat2 lagi. Haaaah gw udah ga ada tenaga gara2 kurang oksigen. Pengen udahaaan.. tapi pengen teruuuuuus!!!!!!!!

Our hopes and expectations!!
Black holes and revelations!!

*sambil loncat2, sambil kecapean*

Starlight selesai, dilanjutkan dengan Stockholm Syndrome. Penonton jadi setengah kesetanan. Mereka bukan cuma loncat2an, tapi loncat2an sambil dorong2an. Gw yang berbadan kecil jadi kaya bola pingpong ditengah2 ribuan bat/raket. Mental sana mental sini, aaarrrggghhh kenapa dulu gw ga beli tiket duduk aja? Sampe akhirnya gw mikir, "fuck it, it's gonna end soon anyway, let's rock!" dan gw pun meng-enjoy-kan diri walau harus dipental2in orang. Stockholm Syndrome, lagu gila. Abis lagunya selesai mereka meneruskan dengan riff metal ala Muse. Dan gw melakukan headbang paling keras selama hidup gw. I wish my life was so pure like this (minus the fatigue). Setelah main gila2an itu, penonton bersorak, Muse keluar dari panggung.

Penonton pun mulai tepuk tangan sambil mengentak2an kakinya ke lantai gedung tua ini lagi. Gw sempet takut gedung ini bakal runtuh. "Muuuuseeeeeee!!!!!!" penonton berteriak.

Muse balik lagi ke panggung...

Kedengeran suara laser dan kuda....

Dom membunyikan drumroll..

jreng...

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAA AAAAAAAAA"

Lagu terakhir, Knights of Cydonia.

Di lagu ini gw udah pasrah. Pingsan biarin pingsan deh, yang penting enjoy! Untungnya di bagian awal lagu penonton rada 'tenang'. Maksudnya, cuma dorong2an, ga pake loncat2.

Lirik "No one's going to take me alive, Time has come to make things right, You and I must fight for our rights, You and I must fight to survive" ditampilkan di layar gede. (coba liat di http://www.youtube.com/watch?v=uD_YFYgfbSY). Penonton ikut nyanyi lagi bareng2. Lagi2 gw merinding. Tapi di reff kedua, saat suara gitar dan drum sedikit demi sedikit jadi makin keras, gw khawatir lagi... khawatir akan riffnya setelahnya.

WOAAAA!!! Riff di akhir Knights of Cydonia sekali lagi hampir membunuh gw. Penonton kali ini seratus persen kesetanan. Gw teler ga bisa ngendaliin diri (walaupun masih sadar). Dalam satu waktu, crowd di sebelah kiri gw membentuk sebuah lingkaran kosong. Tiba2 orang2 memasuki lingkaran itu dan mulai tabrak2an kayak pertandingan adu anjing. Sejak itu gw tau, Mosh Pit tuh bentuknya kayak gini toh. Untungnya gw ga berada di dalam lingkaran itu. Kalo ada mungkin gw udah mental sampe keluar aula.

TIPS 9: Kalo penonton membentuk tempat kosong berbentuk lingkaran aneh, jangan masuk. Kecuali kalo anda memenuhi salah satu syarat di bawah:

1. Badan anda gede
2. Pengen mati.

Saat nada terakhir dimainkan, ratusan liter "es kering" di semprotkan (semprot, bukan hembus) dari depan panggung. Asap putih itu bagai malaikat yang menyelamatkan gw. Sejuk banget. Penonton tepuk tangan lama banget. Muse pun pergi dari panggung. Lampu dinyalakan lagi. Dan satu persatu penonton meninggalkan aula.

Gw berjalan sendiri ditengah keramaian, sempoyongan, masih ngga percaya dengan apa yang baru aja gw alami. Tapi setidaknya badan gw sejuk banget setelah disemprot asap es kering tadi. Oya, baju gw basah kuyup oleh keringet, kaya abis dicuci. Saking basahnya, walau dijemur dalam rumah selama 12 jam baju itu belum kering juga. Baru kali ini gw keringetan sebanyak itu.

Gw nyari temen2 gw, tapi cuma ketemu satu orang. Dua orang Indonesia yang baru kenalan sebelum konser itu ga pernah keliatan lagi.

The best night of my life. Seriously.

--------------------

Tanggal: 31/1/2007
Tempat: Festival Hall, MELBOURNE

Setlist:

1. Take A Bow
2. Hysteria
3. Supermassive Black Holes
4. Butterflies and Hurricanes
5. Map of the Problematique
6. City of Delusion
7. Citizen Erased
8. Sunburn
9. Apocalypse Please
10. Invincible
11. Time is Running Out
12. Plug in Baby

--ENCORE--
13. Soldier's Poem
14. Starlight
15. Stockholm Syndrome

--ENCORE--
16. Knights of Cydonia

(*yang berwarna merah = highlights of the show)

Kesimpulan: Kalo diliat dari lamanya Muse maen, konsernya lumayan pendek (kira2 1 jam 20 menit), tapi gw bersyukur karena kalo konsernya lebih lama dari itu mungkin sekarang gw ga akan ada di sini. Sepanjang konser berlangsung, Matt jarang banget ngomong. Ternyata orang sehebat dia juga bisa punya 'demam panggung' ^^

Ga adanya lagu Bliss dan Newborn emang sedikit mengecewakan, tapi bagi gw kehadiran Citizen Erased membayar semua kekecewaan itu. 100%. Gw juga bersyukur malam itu mereka ga mainin Assassin. Kalo lagu itu sampe dimainin, mungkin sekarang gw udah.. um.. (kerjaannya seorang assassin apaan sih?)

TIPS 10: Hati2 saat lagu2 hits seperti Time is Running Out, Stockholm Syndrome, dan Knights of Cydonia dimainkan. Ngelamun sedikit aja bisa berakibat fatal.

Rating: ******* (Bintang Tujuh), karna keren banget dan karna udah bikin gw kelenger.

TIPS 11: Klo emang pengen nonton Muse, beli tiketnya dari sekarang (udah abis belum yah? Wallahualam). Coba aja cari/tanya infonya di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=352139 atau di http://www.kaskus.us/showthread.php?t=468351. Good luck. Enjoy the show.

Berikut ini adalah foto2 yg berhasil gw kumpulkan dari internet. (Thanks to 'kachido', 'BMB3000', Talitha Conway, and 'peterrules4eva' for the photos)












"The night I watched MUSE shall never be forgotten, until the dementia take my memories away." - uzi.

Tuesday, January 30, 2007

Checkpoint

Postingan2 saya akhir-akhir ini ngga seru ah. Saya juga ngga tau kenapa saya berani membahas suatu tema yang saya sendiri masih belum mengerti. Lagipula cara saya menyampaikan pendapat mungkin memang salah. Harusnya saya bisa menyalahkan sesuatu tanpa harus menjelek-jelekan seseorang. Bener kata ndie, saya kurang menaruh hormat. Huh, kalau tulisannya kacau kayak postingan saya sebelumnya, siapa yang mau baca? Siapa yang mau setuju? Siapa yang mau ngangguk2? Paling2 yang baca cuma mengernyitkan dahi. Lagian ngapain juga saya membahas tentang agama? Bukankah cuma kyai dan cendikiawan berpengalaman yang pantas membahas hal seperti ini?

Ah sudahlah. Saya mau ngelamun lagi aja. Siapa tau bisa dapet ide untuk menjawab teka-teki rumit dalam hal beragama ini.

Sekarang saya mau menulis postingan-postingan ringan aja ah, seperti sedia kala. Daripada postingan berat tapi kurang bermutu, lebih baik postingan ringan, biar ngga bermutu juga gapapa.

Postingan ini sampai di sini saja. Tulisan di bawah ini ga penting buat dibaca.

Tulisan di bawah:

Asiik.. besok nonton konser Muse. Asikkk.. tinggal 18 jam lagi! Akhirnya saya akan merasakan nonton konser band yang udah sering menang Best Live Band award ini!

Thursday, January 18, 2007

Hilang (Human Feeling = Anti Inertia)

Dan aku menangis, dan aku terluka, Bila… (yeah yeah yeah)

Dan aku menangis, dan aku terluka , Bila…

Engkau menghilang….

Lagu Hilang versi akustik yang dinyanyikan oleh Ayu "Gaia" Ratna dari band Garasi itu ngga sengaja terdengar pas gw lagi ngecek profil FS gw sendiri (bukan berarti profil gw dipasangin lagu cengeng lho, tapi profil gw kan pake random music player yang lagunya emang campur-campur;) Gw ga da kerjaan yah buka-buka profil gw sendiri? bukan gitu,, masalahnya gw pengen ngliat wajah profil Friendster gw dengan layout "baru" yg ditawarin Friendster. FS tuh brengsek banget maksa-maksa gw untuk nge-upgrade profil gw ke versi "baru". Gw dari dulu slalu ngeklik link "Ntar Lagi Aja Ah Upgrade-nya, Males" setiap mereka nawarin gw buat ganti profil, tapi lama2 kesel juga harus ngeklik itu terus2an. Kenapa gitu ga ada pilihan "I don't want to upgrade my profile, ever, so you better get the fuck out.".



Anyway, gw kok ada rasa-rasanya gimanaaa gitu ya pas ngedenger lagu ini.



"Dan semuaaaa menghiiiilang"



Yang pertama masuk dalam pikiran gw adalah si Ayu "Gaia" Ratna ketika sedang nyanyi sambil main gitar ala Matt Bellamy-nya Muse.



Btw.. anjrit! baru nyadar! Itu backgroundnya kan Gedung Bumi Siliwangi, sebelahnya lapangan Sawit tempat gw main bola ma temen2 sekelas waktu SD dulu^^ (gedung ini juga tempat rekreasi kalo guru TKA-TPA gw di Darut Tauhid lagi baik 'n mau ngajak murid2nya belajar sambil bermain di alam bebas) Ah... jadi sedih. Masa kecil yang indah.

Anyway, gw kok ada rasa kagum yah klo ngeliat dia (si Ayu).. perasaan yang sama juga muncul ketika ngliat Amy Lee dari Evanescence. Mungkin karena di dunia ini jarang gitu ada cewe yang punya bakat DAN keberanian buat jadi vokalis rock/poprock. Well, banyak sih, tapi jarang yang gw tau. Artis cewe yang terkenal malah artis-artis yang ngga berseni kayak Britney Spears, Christina Anjisgwnggarela, Beyoancei,--dan yang paling parah dan hampir membuat dunia permusikan hancur lebur berantakan--Paris Hilton.


Gw sebenernya pengen sih nerusin ngomongin tentang kenapa jumlah penyanyi rock cewe jauh lebih sedikit ketimbang penyanyi rock cowo, tapi postingan ini sebenernya bukan mau ngomongin itu.


I just wanna talk about Hilang.


Ni lagu emang sama cemen-nya dengan Untitled-nya Simple Plan, tapi lagu ini setidaknya ngebuat gw mikir:


"Kenapa sih manusia tuh takut kehilangan?"


Gw ga akan pura-pura jadi manusia tegar di postingan ini. Gw mau jujur. Bagi gw, kehilangan tuh nyakitin banget. Dulu waktu gw kehilangan hape dua kali, gw pernah sampai berpikir: "Ah! Hape ilangan melulu! buat apa lagi gw hidup! Mending besok gw ke Israel aja sambil bawa dinamit. Trus diledakin di bus umum yang dinaikin orang-orang Yahudi. Kan lumayan gw bisa bunuh diri tapi ngga akan dosa, seperti yang dikatakan seorang kyai deket rumah gw"


Untungnya pikiran itu tidak pernah terlaksana karena gw segera tersadar bahwa kyai juga manusia dan bisa mengucapkan sesuatu yang salah. Yang bener harusnya: Membunuh orang lain, apapun agamanya, tetep aja dosa. Kecuali kalo orang tersebut berinisial G.W.B.


Aduh ini mentang2 topiknya tentang "Hilang", kok postingan ini jadi hilang arah terus yah. Kita balik lagi ke topik.


Gw dan--gw yakin--semua manusia yang masih bernafas, pasti ngga mau ngerasain kehilangan. Kenapa sih bisa gituh? Gw juga ga tau secara pasti. Mungkin hukum inersia atau kelembaman bukan hanya berlaku pada pergerakan suatu benda fisik, tapi berlaku juga pada perasaan manusia, tapi efeknya kebalik.


Maksudnya?


Kita liat contohnya.


Gini, misalnya orang bernama si Joni sedang duduk di sebuah roket yang berbentuk WC duduk. Roket tersebut tadinya berada dalam posisi diam dan Joni sedang duduk dengan nikmat di atasnya. Nah, ketika tiba2 roket tersebut bergerak secara vertikal ke arah atas, tentu badan Joni akan terasa "tertekan" ke bawah. Bahkan kalau akselerasinya cukup cepat, pantat Joni bisa kesedot masuk ke dalam toilet tersebut. Begitu juga kalau roket yang sedang bergerak itu tiba2 berhenti mendadak di udara, Joni pasti akan "terloncat" ke atas, keluar dari Roket.


Cerita di atas tadi menjelaskan hukum inersia. Lain halnya dengan perasaan/hidup manusia:


Misalnya perasaan/hidup seseorang sedang "diam" (contoh realistiknya: sedang ga punya duit, sedang bete, sedang jomblo, etc. Dalam hal ini kita akan mengambil contoh jomblo biar gampang ngejelasinnya karena gw udah pengalaman [dan pengalaman ini sampai sekarang belum berakhir]). Jadi kita anggep aja ada seseorang bernama Jojon yang udah menjomblo selama 25 tahun (baca: Perasaan Jojon sedang "diam" selama 25 tahun). Lalu secara tiba-tiba Jojon jatuh cinta pada Tukiyem (baca: Perasaan jojon tiba-tiba bergerak ke "atas"). Ketika Jojon jatuh cinta pada Tukiyem, dia ngga akan merasa tertekan ke "bawah" seperti halnya Joni dengan Roket WC-nya, melainkan sebaliknya, dia akan mengikuti arah perasaannya, yaitu ke atas. Jojon melayang ke atas bersama Tukiyem. Yay.


Misalnya si Jojon dan Tukiyem telah menjalin hubungan suami istri selama 6 bulan (baca: Perasaan Jojon masih terus bergerak dengan kecepatan tetap ke "atas"), lalu tiba-tiba Jojon tidak sengaja melihat Tukiyem sedang berselingkuh dengan Pak Indro (baca: Perasaan Jojon yang sedang bergerak ke "atas" itu berhenti mendadak). Ketika "berhenti mendadak" ini, beda dengan si Joni dan roket berbentuk WC-nya, Jojon ngga akan terloncat ke "atas", melainkan sebaliknya, dia akan jatuh ke bawah ke dalam jurang patah hati.


Jadi perasaan manusia teh mengikuti hukum inersia juga, tapi efeknya sebaliknya, gitu.


Ah kayaknya ngga ada yang ngerti deh.


Entah gw-nya yang terlalu jenius atau pembaca blog ini yang terlalu lemot.


Ato mungkin gw yang lemot.


Ah ga tau ah.


Manusia emang aneh.


Kalo ngga mau kehilangan "sesuatu", kenapa sejak awal ingin memiliki "sesuatu" tersebut?


Kayaknya postingan ini bener2 hilang deh.


Dari pada terus ngga jelas, mending udahan dulu ah.


Mau "anu" dulu di WC sambil baca komik Detektif Q nomer 18. Maap ga jelas.

Saturday, December 16, 2006

Muse Siap Datang ke Indonesia

Setelah melewati perjuangan yang berat dan memakan waktu lama, akhirnya pihak Java Musikindo berhasil meyakinkan Matt Bellamy dkk untuk datang mengunjungi tanah air. Dengan berbekal gelar "the best live band" (on earth), Muse dikabarkan bakal melipatgandakan gravitasi di bawah rahang para penonton konser di Pekan Raya Jakarta, yang diperkirakan akan menyebabkan penonton tidak mampu menutup rahangnya dari mulai saat Matt datang ke panggung sampai nada terakhir Knights of Cydonia selesai dimainkan.

Rencananya mereka bakal mengguncang Pekan Raya Jakarta pada tanggal 23 Februari 2007, tepat 9 hari setelah hari Valentine (not that it really matters).

Pihak Java Musikindo mengatakan tiketnya nanti akan dapat dibeli dengan harga antara 350 ribu - 500 ribu rupiah. Gua heran ama mereka. Walaupun konser Muse jauh lebih bagus, lebih keras, lebih banyak memakai energi listrik, lebih keren pencahayaannya, dan lebih dalam segala hal daripada konsernya Westlife atau F4, tapi KENAPA harga tiketnya bisa murah gitu? Dulu, gua dan teman-teman gua pernah sakit muntaber selama tiga minggu gara-gara mendengar berita bahwa (mantan) presiden kita Megawati ngabisin duit negara jutaan rupiah buat nonton konser F4. Kalau nanti dia (Megawati) sampai ngga datang ke konser Muse yang udah jelas lebih superior dan harganya jauh lebih murah ini, DAN datang ke konser Westlife di bulan September mendatang, gua sumpahin dia sekeluarga biar ngga bisa 'ee sampe tujuh turunan.

Ngomong-ngomong tentang konsernya Muse, sayah jadi pengen ngebandingin "wajah" panggung mereka dari tahun 1999 sampai tahun 2006. Mereka udah berevolusi dari band kecil yang sering manggung di bar2 yang juga kecil ("I have played in every toilet" - Muscle Museum), menjadi band raksasa yang setiap konser panggungnya kaya berada di dunia lain. Berikut perbandingan foto-foto mereka dari tahun ke tahun:


Tahun: 1999, Tempat: unknown

Tahun: 2000, Tempat: Sheffield

Tahun: 2001, Tempat: unknown

Tahun: 2002, Tempat: Montreux

Tahun: 2003, Tempat: Geneva

Tahun: 2004, Tempat: Glastonbury (Sorry ngga keliatan band nya)

Tahun: 2005, Tempat: LIVE8 Paris
Tahun: 2006, Tempat: Wembley
Bonus: Tahun: 2006, Tempat: EMA Award

!!!

Sekarang, let's talk about the setlist (songs) that they will play di konser di Jakarta ini!

Berikut adalah hasil penelitian yang 100% disimpulkan dari hipotesa yang sama akuratnya dengan ramalan Nostradamus:

--------------------------------------------------------------------------------

Lagu2 yang sudah hampir pasti akan dimainkan di PRJ:
Note: ini cuma daftar lagu aja, bukan URUTAN lagu yang akan dimainkan

Take A Bow (Black Holes and Revelations)
Starlight (Black Holes and Revelations)
Supermassive Black Hole (Black Holes and Revelations)
Map of the Problematique (Black Holes and Revelations)
Invincible (Black Holes and Revelations)
Knights of Cydonia (Black Holes and Revelations)
Time is Running Out (Absolution)
Stockholm Syndrome (Absolution)

Hysteria (Absolution)
Butterflies and Hurricanes (Absolution)
Newborn (Origin of Symmetry)
Bliss (Origin of Symmetry)
Plug In Baby
(Origin of Symmetry)
Feeling Good (Origin of Symmetry)
Forced In (Hullabaloo Soundtrack)

Sedangkan yang mungkin akan dimainkan:

Lagu-lagu lain dari album Black Holes and Revelations yang tidak disebutkan di atas
Citizen Erased (Origin of Symmetry)
Sunburn (Showbiz)
Showbiz (Showbiz)
Muscle Museum
(Showbiz)

Lagu yang kemungkinan akan dimainkannya sangat kecil:

Lagu-lagu lain dari album Absolution yang tidak disebutkan di atas
Lagu-lagu lain dari album Origin of Symmetry yang tidak disebutkan di atas
Lagu-lagu lain dari album Showbiz yang tidak disebutkan di atas (termasuk Unintended)
Lagu-lagu Muse yang lainnya.

Lagu yang tidak mungkin dimainkan:

Balonku ada lima
Lagu anak-anak lainnya

--------------------------------------------------------------------------------

Memang suatu kenyataan yang sangat berat untuk diterima dikalangan fan muse dari Indonesia bahwa Muse kemungkinan besar ngga akan menyanyikan lagu Unintended di konser PRJ nanti, padahal lagu itu adalah salah satu lagu yang membuat nama mereka terdaftar di otak para muser Indonesia. Tapi da mau gimana lagi atuh, udah sekitar empat taun mereka ngga mainin lagu Unintended. Lagu "sedih" yang mereka nyanyikan sekarang biasanya Hoodoo, atau Soldiers Poem. Kecuali kalau ada fan muse di Indo yang nekat mencari nomer telefon Matt Bellamy di database-nya CIA dan merekuest lagu Unintended langsung dari orangnya. Godspeed muser Indonesia.

Akhir kata, marilah kita berdoa agar sisa-sisa teroris di Indonesia yang belum sempat meledakkan dirinya atau belum ditangkap oleh Polri ngga akan melakukan tindakan bodoh dengan membuat show kembang api berbahan bakar manusia sebelum tanggal 23 Februari 2007. Dan juga mari kita berdoa agar perang dunia ketiga tidak akan meletus sebelum tanggal 23 Februari. Amin.

Just for info yang sangat ngga penting, gua sendiri ngga akan datang ke konser ini karna gua belum cukup sakti untuk berenang dari pantai St. Kilda (Melbourne) sampai pantai Ancol (Jakarta), terlalu jauh euy. Untung aja Muse juga datang ke Melbourne pada tanggal 30/31 Januari 2007. Lebih dulu dari konser di Jakarta, hehe.

Enjoy the gig, Indomusers!